Tren Baru Gaya Anak Muda Pengangguran di China, Rela Bayar Mahal Demi Pura-Pura Kelihatan Kerja
Orang-orang yang belum mendapatkan pekerjaan diminta membayar USD4.20 atau Rp68.412 per hari untuk bisa "merasakan" suasana masuk kantor.
Bukan cuma Indonesia, angka pengangguran di China juga tinggi. Mengutip BBC, Selasa (12/8), sebanyak 14 persen tingkat pengangguran di sana. Namun saat kondisi sulitnya mencari pekerjaan, ada fenomena bisnis menarik yang sedang terjadi di China.
Apa itu? Sederhananya, ini bisnis harga diri, kata Pretend To Work Company. Sebuah perusahaan yang menyediakan layanan kantor untuk pura-pura bekerja bagi pengangguran.
Orang-orang yang belum mendapatkan pekerjaan diminta membayar USD4.20 atau Rp68.412 per hari untuk bisa "merasakan" suasana masuk kantor. Terdengar aneh, namun faktanya layanan ini disukai banyak orang. Seperti umumnya kantor, di sana disediakan meja, kursi, makanan ringan, hingga koneksi internet.
“Yang saya jual bukan meja kerja, tapi harga diri agar tidak dianggap orang yang tidak berguna,” ujar Feiyu, pendiri Pretend to Work.
Feiyu blak-blakan bisnisnya ini baru dimulai April lalu. Tak butuh waktu lama, seluruh meja kerja penuh. Calon peserta baru bahkan harus mendaftar terlebih dahulu.
Dia mengatakan 40 persen pelanggannya adalah lulusan baru yang datang untuk mengambil foto sebagai bukti pengalaman magang bagi dosen mereka. Sebagian kecil datang untuk meredakan tekanan dari orang tua.
Sisanya 60 persen adalah pekerja lepas, banyak di antaranya digital nomad, termasuk pekerja perusahaan e-commerce besar dan penulis daring. Usia rata-rata sekitar 30 tahun, dengan yang termuda 25 tahun.
Secara resmi, kelompok ini disebut sebagai “tenaga kerja berstatus fleksibel”, yang juga mencakup sopir taksi online dan sopir truk.
“Ini menggunakan kebohongan untuk mempertahankan martabat," ungkap dia.
Pengangguran merasa bahagia
Shui Zhou, konsumen Pretend to Work mengakui betul-betul merasakan kebahagiaan batin tersendiri meski harus membayar USD4.20 atau Rp68.412 per hari. Ia tidak sendiri, ada lima orang yang dia kenal saat di sana.
“Aku merasa sangat bahagia. Rasanya seperti kami benar-benar bekerja bersama sebagai satu tim,” kata Zhou.
Zhou menemukan Pretend To Work Company lewat media sosial Xiaohongshu. Ia merasa lingkungan kantor akan meningkatkan disiplin dirinya. Kini ia sudah berada di sana lebih dari tiga bulan.
Ia bahkan mengirim foto kantornya kepada orang tuanya. Meski peserta bebas datang dan pergi kapan saja, Zhou biasanya tiba di kantor antara pukul 8–9 pagi. Kadang ia baru pulang pukul 11 malam, menunggu sampai manajer kantor pulang.
Bahkan saking begitu akrabnya, ia mengaku orang-orang di sana kini sudah seperti teman. Saat sibuk, seperti ketika mencari pekerjaan, mereka bekerja keras, tapi saat senggang mereka mengobrol, bercanda, dan bermain gim. Mereka juga sering makan malam bersama setelah “jam kerja”.
Di Shanghai, Xiaowen Tang pernah menyewa meja kerja di kantor pura-pura selama sebulan awal tahun ini. Perempuan 23 tahun itu lulus kuliah tahun lalu dan belum menemukan pekerjaan penuh waktu.
Kampusnya memiliki aturan tak tertulis bahwa mahasiswa harus menandatangani kontrak kerja atau memberikan bukti magang dalam waktu satu tahun setelah lulus; jika tidak, mereka tidak akan menerima ijazah.
Tang mengirim foto suasana kantor sebagai bukti magang kepada kampusnya. Padahal kenyataannya, ia membayar biaya harian dan duduk di kantor sambil menulis novel daring untuk mendapatkan uang saku.
“Kalau mau pura-pura, ya sekalian saja pura-pura sampai akhir,” ujarnya.
Respons pengamat
Dr Christian Yao, dosen senior di School of Management, Victoria University of Wellington, Selandia Baru, yang juga pakar ekonomi Tiongkok, mengatakan, fenomena berpura-pura bekerja kini sangat umum.
"Karena transformasi ekonomi dan ketidaksesuaian antara pendidikan dan pasar kerja, anak muda membutuhkan tempat seperti ini untuk memikirkan langkah selanjutnya, atau mengerjakan pekerjaan sambilan sebagai masa transisi. Perusahaan kantor pura-pura adalah salah satu solusi transisi," ujar dia.
Sementara itu Dr Biao Xiang, direktur Max Planck Institute for Social Anthropology di Jerman, mengatakan tren berpura-pura bekerja di China muncul dari “rasa frustrasi dan ketidakberdayaan” akibat kurangnya peluang kerja.
“Berpura-pura bekerja adalah cangkang yang ditemukan anak muda untuk dirinya sendiri, menciptakan jarak kecil dari masyarakat arus utama, dan memberi mereka sedikit ruang,” katanya.
TEBAK SKOR GRATIS BERHADIAH UANG 1.5 JUTA RUPIAH , KLIK DISINI !!!