Header Ads

Header ADS

Bukan Hanya Skill Ngoprek, Syarat Paling Utama Calon Karyawan Mark Zuckerberg Bisa Digaji Rp1,6 Triliun

 


Para kandidat umumnya berusia 20–30 tahun, saling mengenal satu sama lain, dan sehari-hari mengerjakan masalah komputasi rumit.


CEO Meta, Mark Zuckerberg, tengah gencar membangun laboratorium superintelligence dengan merekrut para peneliti AI papan atas menggunakan dokumen terkurasi bernama The List.


Dokumen ini berisi daftar kandidat yang dinilai sebagai otak-otak terbaik di industri kecerdasan buatan, mayoritas lulusan PhD dari universitas elit seperti Berkeley dan Carnegie Mellon, serta memiliki pengalaman di laboratorium ternama seperti OpenAI di San Francisco dan Google DeepMind di London.


Mengutip The Wall Street Journal, para kandidat umumnya berusia 20–30 tahun, saling mengenal satu sama lain, dan sehari-hari mengerjakan masalah komputasi yang rumit dan membutuhkan sumber daya komputasi besar.


Zuckerberg disebut turun langsung memimpin perekrutan dengan menelaah makalah teknis serta berdiskusi strategi bersama dua eksekutif Meta dalam grup obrolan internal bernama “Recruiting Party”.


Grup ini membahas ratusan kandidat dan metode pendekatan, mulai dari email, pesan teks, hingga WhatsApp. Meta memprioritaskan kandidat dengan gelar PhD di bidang AI, pengalaman di laboratorium riset terkemuka, dan kontribusi penting dalam terobosan teknologi AI.


Komunitas AI yang relatif kecil dan terhubung lewat Slack atau Discord membuat para peneliti mudah bertukar informasi soal tawaran kerja. Bahkan, tawaran bersaing kerap dimanfaatkan untuk menaikkan nilai kontrak.


Dua sumber yang mengetahui kondisi ini mengonfirmasi praktik tersebut, sementara Meta dilaporkan telah menargetkan puluhan peneliti OpenAI.


Perekrutan ini dipimpin oleh Alexandr Wang, 28 tahun, pendiri Scale AI dan putra imigran Tiongkok asal New Mexico.


Meta baru-baru ini menginvestasikan USD14 miliar di perusahaannya, menjadikannya salah satu rekrutmen termahal sepanjang sejarah industri AI.


Agresivitas Meta memaksa OpenAI melakukan langkah pertahanan. Perusahaan tersebut dilaporkan mengubah struktur kompensasi, mengirimkan surat terbuka dari CTO kepada seluruh karyawan agar tidak tergiur tawaran Zuckerberg, hingga sempat menutup operasional selama hampir satu pekan.


Mantan CTO OpenAI, Mira Murati, mengungkapkan bahwa Meta menawarkan paket bernilai jutaan dolar kepada sejumlah insinyur OpenAI. Namun, sejauh ini tidak ada satu pun karyawan yang menerima tawaran tersebut.


Langkah Zuckerberg ini menjadi sinyal terbaru dari semakin ketatnya perebutan talenta AI di Silicon Valley, dengan fokus pada pembangunan teknologi superintelligence yang diyakini akan menjadi babak berikutnya dalam evolusi kecerdasan buatan.


TEBAK SKOR GRATIS BERHADIAH UANG 1.5 JUTA RUPIAH , KLIK DISINI !!!



Diberdayakan oleh Blogger.