Kondisi Rumah Tangga di Kota Termahal di Dunia: Biaya Hidup Sangat Tinggi tapi Gengsi Nomor Satu
Sejak pandemi, kenaikan biaya hidup terjadi lebih cepat daripada pertumbuhan pendapatan, yang berakibat pada menyusutnya daya beli rata-rata pekerja.
Tantangan keuangan yang dihadapi masyarakat Singapura semakin rumit. Selain biaya hidup yang tinggi, perubahan sosial dan budaya juga membuat masyarakat sulit untuk menabung dan lebih cenderung berbelanja melebihi kemampuan keuangan mereka.
Melansir laman CNBC, ekonom dari Maybank Research, Brian Lee, mengungkapkan bahwa faktor makroekonomi turut memperburuk kondisi keuangan rumah tangga di Singapura. Meskipun inflasi telah menurun ke tingkat terendah dalam empat tahun, biaya hidup masih termasuk yang tertinggi di dunia.
Hal ini disebabkan oleh masalah struktural, seperti harga perumahan yang selangit dan tingginya biaya impor.
Data dari Numbeo pada pertengahan 2025 menunjukkan bahwa Singapura berada di urutan kelima dunia dengan skor biaya hidup 85,3, yang merupakan yang tertinggi di Asia, dan mengalami kenaikan sebesar 11 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Survei yang dilakukan oleh YouGov pada bulan April juga mengungkapkan bahwa 72 persen dari 1.845 responden menganggap biaya hidup sebagai masalah utama, diikuti oleh isu kesehatan dan penuaan populasi. Menurut Lee, sejak pandemi, kenaikan biaya hidup terjadi lebih cepat daripada pertumbuhan pendapatan, yang berakibat pada menyusutnya daya beli rata-rata pekerja.
Data dari Maybank mencatat bahwa pendapatan riil median pekerja mengalami penurunan rata-rata 0,4 persen per tahun antara 2019 hingga 2024, berbeda jauh dari pertumbuhan 2,2 persen per tahun yang tercatat pada periode 2014 hingga 2019.
Meskipun ada pemulihan upah riil pada tahun 2024, Kementerian Tenaga Kerja memprediksi bahwa pertumbuhan akan melambat kembali pada tahun 2025, terutama karena tarif yang memberikan tekanan pada sektor perdagangan grosir dan manufaktur.
Kenaikan Harga Rumah
Biaya hidup semakin meningkat akibat lonjakan harga tempat tinggal. Menurut data dari Dewan Pembangunan Perumahan Singapura (HDB), harga jual kembali apartemen publik yang dihuni oleh sekitar 80 persen penduduk, naik sebesar 9,6 persen pada tahun 2024.
Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan 4,9 persen yang terjadi pada tahun 2023. "Singapura memiliki keterbatasan lahan, ruang, dan sumber daya alam. Hal ini berarti harga properti tinggi, harga mobil tinggi, dan ketergantungan pada makanan impor," ungkap Brian Lee.
Ketergantungan tersebut menyebabkan inflasi dalam negeri sangat dipengaruhi oleh kondisi global, mulai dari pandemi, lonjakan permintaan barang, hingga gangguan pada rantai pasok.
Gaya Hidup yang Mengedepankan Konsumsi dan Gengsi
Namun, tekanan finansial yang dialami oleh masyarakat Singapura tidak semata-mata disebabkan oleh faktor struktural. Menurut Joshua Lim, manajer kekayaan di PhillipCapital, pola konsumsi masyarakat kini cenderung mencerminkan aspirasi.
"Kemewahan menjadi hal besar di sini. Mercedes adalah salah satu merek mobil terlaris. Orang-orang berusaha membangun citra dan gaya hidup tertentu," ujarnya.
Meskipun harga mobil di Singapura dikenal sangat tinggi, terutama karena adanya sistem Certificate of Entitlement (COE), banyak orang tetap berusaha untuk memilikinya. Biaya untuk mendapatkan izin kepemilikan kendaraan ini bisa mencapai lebih dari 100.000 dolar Singapura, bahkan terkadang lebih mahal dari harga mobil itu sendiri.
Walaupun demikian, banyak warga yang tetap bersedia mengeluarkan uang demi mempertahankan gengsi mereka.
"Bagi mereka yang benar-benar pemboros, atau yang memang tidak suka menabung, alasannya juga karena mereka membelanjakan uang yang bahkan belum mereka terima," tambah Lim.
Hal ini menunjukkan bahwa keinginan untuk memiliki barang-barang mewah sering kali mengalahkan pertimbangan finansial yang rasional. Dengan kata lain, meskipun ada tantangan ekonomi, aspirasi untuk tampil glamor tetap menjadi pendorong utama dalam perilaku konsumsi masyarakat Singapura.
Jebakana Layanan Paylater
Fenomena ini semakin diperkuat dengan banyaknya skema beli sekarang, bayar nanti (BNPL), yang memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk berbelanja tanpa perlu memiliki uang tunai terlebih dahulu.
Menurut catatan Bank Sentral Singapura, nilai transaksi BNPL mencapai sekitar 440 juta dolar Singapura pada tahun 2021, yang menunjukkan peningkatan hampir empat kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Firma riset IDC juga memprediksi bahwa proporsi BNPL dalam transaksi e-commerce akan naik dari 4 persen pada tahun 2023 menjadi 6 persen pada tahun 2028. Lim berpendapat bahwa tren ini mencerminkan terbentuknya 'masyarakat berutang', di mana kepuasan instan serta keinginan untuk menunjukkan gaya hidup tertentu lebih diutamakan dibandingkan prinsip kehati-hatian finansial yang dianut oleh generasi sebelumnya.
Kelas Menengah Paling Terdampak
Menarik untuk dicatat bahwa kelompok yang paling tertekan dalam situasi ini bukanlah masyarakat berpenghasilan rendah, tetapi justru kelas menengah. Dari total klien Lim, sekitar 60-70 persen berasal dari kelompok berpenghasilan menengah yang hidup dari gaji ke gaji dan berusaha mencari cara untuk menabung lebih banyak.
Di sisi lain, klien yang berasal dari kelompok berpenghasilan tinggi hanya menyumbang sekitar 20 persen, sementara kelompok berpenghasilan rendah mencakup sekitar 10 persen dari total klien.
TEBAK SKOR GRATIS BERHADIAH UANG 1.5 JUTA RUPIAH , KLIK DISINI !!!