Header Ads

Header ADS

Berani-beraninya Netanyahu Sebut PM Australia Politisi Lemah Pengkhianat Israel

 


Apa yang menjadi penyebab ketegangan dalam hubungan antara Australia dan Israel? Berikut penjelasannya secara mendalam.


Hubungan Israel dan Australia kembali memanas. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, melontarkan kritik pedas terhadap Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, lewat sebuah unggahan di media sosial.


“Sejarah akan mengingat Albanese apa adanya: seorang politikus lemah yang mengkhianati Israel dan meninggalkan orang-orang Yahudi Australia,” tulis Netanyahu.


Pernyataan itu muncul setelah kelompok Yahudi terkemuka di Australia menyerukan ketenangan. Alex Ryvchin, co-chief executive dari Executive Council of Australia Jewry, mengingatkan agar kedua negara segera meredakan situasi.


“Ada konsekuensi nyata di sini dan kami ingin kedua negara menyelesaikan persoalan sebelum keadaan di luar kendali,” katanya, Selasa (19/8).


Ketegangan dipicu oleh keputusan pemerintahan Albanese yang membatalkan visa politisi sayap kanan Israel, Simcha Rothman.


Rothman dijadwalkan memberi pidato di Sydney dan Melbourne akhir pekan ini. Langkah itu memicu kemarahan Israel.


Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, menuduh pemerintah Australia justru memperburuk sentimen antisemitisme. Sebagai balasan, ia mencabut visa perwakilan Australia untuk Otoritas Palestina.


Namun, Menteri Luar Negeri Australia, Penny Wong, menilai tuduhan itu tidak berdasar. Ia menegaskan bahwa kebijakan Israel justru berisiko merusak upaya internasional dalam mendorong perdamaian dan solusi dua negara.


Penyebab konflik antara Australia dan Israel


Perselisihan diplomatik antara Israel dan Australia kian meruncing. Pemicunya adalah keputusan Australia yang secara resmi mengumumkan pengakuan terhadap Negara Palestina dalam Sidang


Majelis Umum PBB pada September mendatang. Langkah itu dipandang sebagai bentuk dukungan terhadap komitmen baru Otoritas Palestina.


Sehari setelahnya, tepatnya Senin (18/8), Kementerian Dalam Negeri Australia membatalkan visa politisi sayap kanan Israel, Simcha Rothman.


Pemerintah menilai kehadiran Rothman berisiko menimbulkan ketertiban umum di Australia. Selain itu, ada kekhawatiran ia akan melontarkan pernyataan provokatif untuk mendukung pandangan politiknya yang kontroversial.


Langkah ini langsung memicu reaksi keras dari Israel. Menteri Luar Negeri Gideon Saar, lewat sebuah pesan video berbahasa Ibrani, menuduh Australia telah “menganiaya Israel” dan mengancam akan mengambil tindakan lebih jauh.


Namun, suara berbeda datang dari komunitas Yahudi di Australia. Mereka menyerukan agar kedua negara menahan diri demi menjaga hubungan yang telah lama terjalin.


“Kepala dingin perlu mengendalikan situasi. Jika tidak, ada risiko besar terhadap perdagangan bilateral senilai sekitar 2 miliar dolar, investasi pada perusahaan rintisan Australia, kerja sama keamanan yang vital, serta akses pada obat-obatan dan teknologi medis buatan Israel yang kita andalkan,” ujar salah satu perwakilan komunitas.


Pro dan kontra


Australia/Israel & Jewish Affairs Council menyatakan meskipun tidak sependapat dengan banyak pandangan Rothman, mereka menganggap keputusan untuk mencabut visanya sebagai preseden yang mengkhawatirkan.


"Sangat disayangkan bahwa Australia dan Israel telah beralih dari hubungan yang erat menjadi perselisihan diplomatik yang tidak produktif, yang jelas dimulai oleh tindakan yang tidak beralasan dan bersikap antagonis dari pemerintah Australia," ungkap dewan tersebut dalam sebuah pernyataan.


Presiden Zionist Federation of Australia, Jeremy Leibler, menjelaskan kepada situs Jewish Independent pada hari Selasa bahwa pandangan Rothman tidak mencerminkan opini umum di Israel maupun nilai-nilai yang dianut oleh mayoritas komunitas Yahudi di Australia.


Namun, dia juga mengkritik keputusan untuk melarang Rothman masuk, dengan menyatakan,


"Satu hal jika kita sangat tidak setuju dengan seorang wakil rakyat dari negara demokrasi dan sekutu, tetapi hal lain jika kita menolak mereka masuk dengan alasan tersebut. Australia seharusnya tidak menciptakan preseden seperti ini."


Jewish Council of Australia yang bersikap progresif mendukung keputusan pemerintah Albanese, tetapi mempertanyakan mengapa Rothman pada awalnya diberikan visa.


"Seperti halnya Rusia, anggota partai koalisi pemerintahan Israel seharusnya sudah menjadi subjek sanksi dari pemerintah Australia, termasuk Rothman," tegas juru bicara Jewish Council of Australia, Bart Shteinman.


"Keputusan agresif Israel untuk membalas penolakan visa Rothman dengan mengusir diplomat Australia di Otoritas Palestina merupakan sebuah eskalasi besar dalam permusuhan terhadap Australia. Jika tindakan tersebut masih dianggap kurang sebagai bukti, jelas bahwa Israel tidak berminat untuk menjaga hubungan dengan pemerintah Australia dan sama sekali tidak peduli dengan pernyataan keras yang dikeluarkannya."


Pemerintah Australia membatalkan visa yang telah dikeluarkan


Kementerian Dalam Negeri Australia menyatakan bahwa pernyataan-pernyataan yang dibuat oleh Rothman sebelumnya menjadi pertimbangan dalam keputusan untuk mencabut visa yang telah disetujui pada tanggal 8 Agustus.


Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada bulan Mei, Rothman menyebutkan bahwa anak-anak di Gaza adalah musuh yang tidak seharusnya diizinkan masuk ke Israel.


"Anda tidak membiarkan mereka menaklukkan negara Anda dengan pengungsi," ungkapnya.


Pada kesempatan lain, Rothman juga dilaporkan menyatakan bahwa gagasan mengenai solusi dua negara antara Israel dan Palestina telah "meracuni pikiran seluruh dunia" dan merupakan "langkah pertama menuju kehancuran negara Israel."


Kementerian Dalam Negeri Australia menekankan bahwa jika masyarakat mengetahui bahwa Rothman telah memasuki Australia dengan izin dari pemerintah, hal tersebut dapat memicu keberanian bagi orang lain untuk mengekspresikan sentimen anti-Islam.


Asosiasi Yahudi Australia yang berhaluan kanan, yang mengundang Rothman dan menyelenggarakan tur pidatonya, mengumumkan rencana untuk mengadakan acara daring bersama Rothman pada hari Minggu (24/8) malam. Mereka menegaskan bahwa "pertunjukan akan tetap berlangsung."


Selain itu, keputusan Saar untuk mencabut visa tiga diplomat Australia yang beroperasi di Yerusalem Timur dan bekerja di Tepi Barat diperkirakan akan menyulitkan kerja sama Australia dengan Otoritas Palestina.


Saat ini, Kementerian Luar Negeri Australia tengah berupaya untuk memulangkan para perwakilan yang terdampak.


TEBAK SKOR GRATIS BERHADIAH UANG 1.5 JUTA RUPIAH , KLIK DISINI !!!



Diberdayakan oleh Blogger.