Header Ads

Header ADS

Gunung Penanggungan: Paku Dunia Majapahit dan Pengabaian India

 


Saat Majapahit yang hendak menyatukan Nusantara berjaya, pakem-pakem ikonografis India mulai diabaikan demi memperkuat posisinya sebagai "payung dunia".


Selama periode Hindu-Buddha, masyarakat Nusantara mendapatkan berbagai pengetahuan dan kepercayaan baru dari India. Salah satu yang menjadi tolok ukur dari difusi kebudayaan India adalah formalisasi konsep kosmologi masyarakat Nusantara.


Sebagaimana disebutkan Agus Aris Munandar dalam Kaladesa: Awal Sejarah Nusantara (2019), masyarakat Nusantara—khususnya Jawa—sejak masa prasejarah telah memandang penting gunung-gunung. Mereka percaya bahwa nenek moyang mereka yang wafat berdiam di tempat-tempat tinggi dan menjadi dewata yang mengatur kehidupan.


Sejak agama Hindu dan Buddha masuk ke Nusantara, kedudukan gunung makin meningkat setelah diadopsinya kepercayaan bahwa gunung adalah axis mundi dari dunia tempat mereka hidup. Konsepsi meru ini satu paket dengan konsep astadikpalaka atau kepercayaan terhadap dewa-dewa lokapala (penjaga dunia) yang berdiam di tiap-tiap arah mata angin dengan gunung meru sebagai titik tengahnya.


Secara fisik, dalam hal ini terlihat dalam tinggalan arkeologis, kepercayaan akan dewa-dewa penjaga arah mata angin dapat dijumpai pada relief pagar langkan Candi Siwa Prambanan. Di sana digambarkan relief delapan dewa penjaga arah mata angin, yakni Kuwera (dewa kesejahteraan) di utara, Isana (dewa perwujudan Siwa) di timur laut, Indra (dewa perang dan hujan) di timur, Agni (dewa api) di tenggara, Yama (dewa kematian) di selatan, Niruti (dewa kesengsaraan) di barat daya, Baruna (dewa laut) di barat, dan Bayu (dewa angin) di barat laut.


Konsep kosmologis khas India ini awalnya menempatkan Gunung Himalaya sebagai tempat yang dianggap pusat dunia. Namun, pada perkembangannya, konsepsi akan gunung paku dunia ini mulai mengalami proses vernakularisasi (pelokalan).


Beberapa aspek mulai dari modifikasi keagamaan dan propaganda politik menjadi latar belakang dari terjadinya fenomena ini. Proses pergeseran ini dari sudut pandang para arkeolog dan sejarawan kuno mulai terjadi pada masa Majapahit. Dan kedudukan meru dari Kerajaan Wilwatikta telah berpindah dari Gunung Himalaya di Jambhudwipa (India) ke Gunung Penanggungan di Jawadwipa.


TEBAK SKOR GRATIS BERHADIAH UANG 1.5 JUTA RUPIAH , KLIK DISINI !!!



Diberdayakan oleh Blogger.