Header Ads

Header ADS

PM Selandia Baru Cibir PM Israel Benjamin Netanyahu Kehilangan Akal Sehat

 


Menteri Pertahanan Italia, Guido Crosetto, sebelumnya juga memberikan penilaian yang serupa kepada pemerintah Israel.


Perdana Menteri Selandia Baru Christopher Luxon menyatakan bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah kehilangan akal sehatnya, dan rencana Israel untuk menduduki Kota Gaza dianggap tidak dapat diterima. Pernyataan ini muncul di tengah pertimbangan pemerintah koalisi konservatif yang dipimpin Luxon untuk bergabung dengan negara-negara anggota aliansi keamanan Five Eyes lainnya, yaitu Australia, Inggris, dan Kanada, dalam mengakui Negara Palestina.


Sementara itu, kecaman dan kemarahan internasional terhadap keputusan terbaru Israel yang memperluas perang dengan merebut Kota Gaza semakin meningkat, menghambat distribusi bantuan kemanusiaan, dan memicu kelaparan massal di wilayah tersebut.


Luxon, yang juga merupakan pemimpin Partai Nasional berhaluan kanan, menegaskan bahwa Netanyahu tidak mendengarkan seruan komunitas internasional untuk memberikan bantuan kemanusiaan secara tanpa hambatan ke Gaza.


"Saya menilai Netanyahu sudah keterlaluan dan kehilangan akal sehatnya. Serangan ke Kota Gaza yang terjadi semalam adalah hal yang sama sekali, sama sekali tidak dapat diterima," ungkap Luxon seperti dilansir CNN,


Dalam salah satu pernyataan terkerasnya mengenai tindakan Israel di Gaza hingga saat ini. Israel tetap melanjutkan serangan udara intensif ke Gaza pada pekan ini.


"Kami telah sampaikan bahwa pemindahan paksa penduduk dan aneksasi Gaza akan menjadi pelanggaran hukum internasional," tambah pemimpin Selandia Baru itu.


Situasi di Gaza semakin mengerikan, dengan kekerasan dan kelaparan yang semakin memburuk. Menurut otoritas kesehatan setempat, sejak awal perang, setidaknya 227 orang, termasuk 103 anak-anak, telah meninggal akibat malnutrisi. Menanggapi pernyataan Luxon, Wakil Menteri Luar Negeri Israel, Sharren Haskel, menulis di platform X,


"Saya rasa, jika suatu negara nyaris tidak membutuhkan militer karena musuh paling mematikannya hanyalah seekor possum atau kucing, maka negara itu tidak akan memahami tantangan menghadapi Hamas — sebuah sekte maut jihadis — yang hanya berjarak beberapa kilometer dari perbatasan dan yang memperkosa, mengeksekusi, membakar hidup-hidup, serta membuat rakyat Anda kelaparan."


Hubungan Antara AS dan Sekutunya Mulai Renggang Terkait Isu Gaza


Luxon bukan satu-satunya pemimpin Barat yang secara terbuka mengkritik Netanyahu dalam beberapa hari terakhir. Pada Selasa (12/8), Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, mengungkapkan bahwa ia telah berbicara dengan Netanyahu, namun mendapati bahwa pemimpin Israel tersebut menyangkal adanya dampak kemanusiaan dari perang di Gaza.


"Dia (Netanyahu) kembali menegaskan kepada saya apa yang juga telah dia sampaikan secara publik, yaitu menyangkal konsekuensi yang terjadi pada warga sipil tidak bersalah," tutur Albanese kepada penyiar publik Australia, ABC.


Di awal pekan ini, Australia mengumumkan rencananya untuk mengakui Negara Palestina pada Sidang Majelis Umum PBB bulan September mendatang. Langkah ini menjadikan Selandia Baru satu-satunya anggota Five Eyes, selain Amerika Serikat (AS), yang belum menunjukkan komitmen serupa. Selain itu, Presiden Prancis, Emmanuel Macron, juga telah menyatakan bahwa Prancis akan mengakui Negara Palestina di forum tersebut.


Dengan perkembangan ini, AS semakin berseberangan dengan sekutu Barat utamanya terkait Israel dan perang di Gaza. Baik Israel maupun AS mengkritik pengakuan terhadap Negara Palestina. Luxon mengumumkan pada Senin (11/8) bahwa Selandia Baru akan mempertimbangkan posisinya mengenai pengakuan Negara Palestina dalam sebulan ke depan.


Pengumuman ini memicu kritik tajam di dalam negeri karena dianggap lamban dalam bersikap terhadap Israel. Mantan Perdana Menteri Selandia Baru, Helen Clark, yang kini memimpin Program Pembangunan PBB, mengecam pemerintahan koalisi Luxon karena dinilai tidak tanggap.


"Saat ini, kita tampaknya benar-benar tidak memiliki pendirian apa pun, selain entah bagaimana berusaha menyelamatkan diri sendiri dalam perang tarif," ujarnya kepada penyiar publik Selandia Baru, RNZ, pada Selasa (12/8).


"Menurut saya, ini adalah posisi yang sangat memalukan bagi Selandia Baru."


Pada hari Rabu, co-leader Partai Hijau, Chloe Swarbrick, dikeluarkan dari Parlemen karena menolak untuk meminta maaf atas komentarnya yang menantang anggota parlemen partai koalisi untuk berani mendukung rancangan undang-undang pemberian sanksi terhadap Israel.


"Jika kita bisa menemukan enam dari 68 anggota parlemen pemerintah yang punya nyali, kita bisa berada di sisi yang benar dalam sejarah," tegas Swarbrick pada Selasa.


TEBAK SKOR GRATIS BERHADIAH UANG 1.5 JUTA RUPIAH , KLIK DISINI !!!



Diberdayakan oleh Blogger.