Header Ads

Header ADS

Ternyata Sebagian Besar Miliarder di Indonesia dari Hasil Kerja Keras Sendiri, Begini Datanya

 


Antara 2024 dan 2025, total kekayaan miliarder global meningkat 13,4%.


Mayoritas miliarder dunia saat ini membangun kekayaannya dari nol, bukan hasil warisan. Berdasarkan data terbaru dari Data Pulse yang diolah dari Forbes World’s Billionaires List per Juni 2025, 67% dari total 2.838 miliarder dunia adalah self-made atau hasil kerja sendiri, sementara 33% lainnya mewarisi kekayaannya. Menariknya, Indonesia termasuk dalam jajaran negara dengan dominasi miliarder self-made, mengikuti tren yang juga terlihat di negara-negara Asia seperti Tiongkok, Taiwan, dan Israel.


Secara global, Tiongkok dan Rusia memimpin dengan 97% miliardernya merupakan self-made, disusul Amerika Serikat (73%). Negara-negara Asia, termasuk Indonesia, menunjukkan lingkungan wirausaha yang dinamis, pertumbuhan startup yang cepat, serta akses yang relatif terbuka terhadap peluang bisnis dan teknologi.


Indonesia Dianggap Subur bagi Wirausaha Sukses

Laporan tersebut menyoroti bahwa iklim kewirausahaan di Indonesia mendukung terciptanya miliarder-miliarder baru, bukan hanya karena potensi ekonomi domestik, tetapi juga karena meningkatnya peran generasi muda dalam menciptakan bisnis inovatif di sektor digital, finansial, dan konsumsi. Meskipun tidak disebutkan angka persentase pasti, Indonesia digolongkan bersama negara-negara dengan proporsi miliarder self-made yang tinggi.


Bisnis Dinasti di Eropa

Berbeda dengan Asia, sebagian besar negara Eropa justru menunjukkan dominasi kekayaan warisan. Di Jerman, hanya 25% miliardernya yang membangun kekayaannya sendiri, sementara sisanya berasal dari dinasti bisnis keluarga. Tren serupa juga terjadi di Spanyol (26%), Italia (36%), Belgia, dan bahkan Meksiko. Kekayaan di negara-negara ini lebih banyak diwariskan antar generasi, dan menimbulkan kekhawatiran tentang kesenjangan ekonomi yang makin dalam.


Antara 2024 dan 2025, total kekayaan miliarder global meningkat 13,4%. Namun, laporan ini mengingatkan bahwa asal-usul kekayaan, dibangun atau diwariskan, mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap keadilan sosial dan peluang ekonomi.


“Ketika orang merasa tidak bisa naik kelas sosial meski sudah bekerja keras, daya tarik terhadap pilihan politik radikal akan meningkat,” kata Sosiolog Prof. Dr. Thomas Druyen.


Negara-negara dengan proporsi tinggi miliarder self-made biasanya memiliki kepercayaan sosial yang lebih besar terhadap mobilitas ekonomi, sedangkan di negara dengan dominasi kekayaan warisan, potensi ketegangan sosial dan ketidakpuasan publik cenderung lebih tinggi.


TEBAK SKOR GRATIS BERHADIAH UANG 1.5 JUTA RUPIAH , KLIK DISINI !!!


Diberdayakan oleh Blogger.