Berita Terupdate dan Terpercaya Yang Disajikan Dengan Lebih Menarik

Benarkah Ada Penistaan Alquran? Karena Menggunakan Kalimat Pasif, Maka Membandingkannya Harus dengan Kalimat Pasif Pula.

Beritaviral | Kasus dugaan penistaan Alquran oleh Basuki Tjahaya Purnama masih menjadi pembicaraan hangat. Demo besar umat Islam yang kabarnya mencapai angka dua juta orang --juga diikuti sebagian kecil umat non-Islam-- pada 4 November lalu tak juga menyurutkan pemberitaan kasus ini.

Pro-kontra atas kasus tersebut tak bisa terhindarkan dan terus menggelinding. Pangkal persoalannya adalah ucapan Basuki (Ahok) yang saat itu masih menjabat gubernur Jakarta di hadapan masyarakat Kepulauan Seribu. Meski belum waktunya kampanye dan memakai baju dinas, Ahok membahas soal pilih-memilih pada awal Oktober lalu.

Berikut ini kutipan pernyataan Ahok yang kemudian meledak menjadi masalah besar. “Jadi, jangan percaya sama orang. Kan bisa saja dalam hati kecil bapak-ibu enggak bisa pilih saya karena dibohongi pakai surat Al Maidah 51 macem-macem gitu lho. Itu hak bapak-ibu, ya”.


Untuk menilai ada-tidaknya penistaan agama, sangat perlu kita mengkaji secara utuh kalimat dan suasana yang terjadi. Dengan begitu, kesimpulan yang diperoleh akan lebih lengkap dan tak ada yang terlewati.

Hal pertama yang perlu dikaji adalah siapa dan apa posisi orang yang menyampaikan dugaan penistaan itu. Keberadaan orang yang membuat pernyataan akan ikut menentukan tendensi dari isi omongan itu, apakah menistakan atau tidak. Orang yang tak memiliki posisi kuat (kuasa) atau pengetahuan luas akan cenderung tidak berani mengatakan hal yang sensitif.

Poin pertama itu terkait dengan hal kedua, yakni situasi yang ada pada saat itu. Di hadapan banyak orang, hanya orang-orang tertentu yang mampu dan berani bicara lugas dan tanpa ada rasa khawatir apalagi itu menyinggung keyakinan beragama orang lain. Bisa jadi, karena karakternya, seseorang bisa bicara keras tanpa merasa hal itu menyinggung atau mengenai pihak lain.

Namun, lantaran berada di hadapan khalayak, seseorang dalam menyampaikan ucapan akan lebih berhat-hati. Dengan demikian, kecenderungan untuk melecehkan atau menistakan keyakinan orang lain akan lebih ditekan, kecuali ada kepentingan besar yang ingin digapai. Hasrat besar inilah yang terkadang membuat seseorang kian berani melawan tengganng rasa/kelaziman/tata karma.

Berikutnya (ketiga) adalah masalah kepercayaan/keyakinan yang dianut oleh orang yang bersangkutan. Jika seseorang memiliki agama yang berbeda dengan isi kitab suci yang akan disampaikan, maka orang itu tentu akan lebih berhati-hati. Bahkan, bila perlu, dia akan berpikir lebih baik menghindari topik itu daripada membahasnya.


Andai itu di balik dan terjadi pada pemeluk agama Islam yang mengucapkan seperti itu terhadap ayat di kitab suci lain dan di hadapan para pemeluknya, seperti apa perasaan mereka? Ini perlu untuk bahan perbandingan. Tentu saja ayat yang dipilih dalam kitab suci agama lain itu isinya kurang-lebih sama dengan isi yang terkandung di Al Maidah ayat 51. Dalam kasus ini, saya yakin Ahok tidak sedang berceramah karena itu tendensi untuk ‘bermain-main’ lebih besar.

Lalu keempat adalah soal isi atau makna dalam surat Al Maidah ayat 51. Terjemahan ayat dalam surat tersebut adalah: "Hai orang-orang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi auliya (pemimpin/sahabat) bagimu, sebagian mereka adalah auliya bagi sebagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi auliya, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim”.

Jika kita hendak meneliti apakah pernyataan seseorang itu menistakan atau tidak sebuah ayat di kitab suci, maka sangat perlu memahami isi ayat tersebut. Ini tentu berbeda jika kita hanya membuat pernyataan yang yang diduga menistakan suatu agama namun tak menyebut isi sebuah ayat dalam kitab suci.

Berikutnya (kelima) adalah struktur bahasa Indonesia yang digunakan Ahok ketika mengucapkan serangkaian kalimat berdana kampanye tersebut. Penggalan kalimatnya adalah sebagai berikut: …bapak-ibu enggak bisa pilih saya karena dibohongi pakai surat Al Maidah 51 macem-macem gitu lho.

Karena itu menggunakan kalimat pasif, maka membandingkannya harus dengan kalimat pasif pula agar sepadan. Dengan begitu, penggalan kalimat yang diucapkan Ahok tersebut kira-kira senada dan seirama dengan: dilempari pakai batu atau disirami pakai air. Mari kita bandingkan dengan kalimat ini: dilempari batu atau disirami air. Esensi penggalan kalimat terakhir (tanpa kata ‘pakai’) itu nyaris tak berbeda makna dengan penggalan kalimat yang menggunakan kata ‘pakai’.

Ini berarti, dilempari batu tak ada perbedaan makna dengan dilempari pakai batu. Pun demikian dengan disirami air, punya makna yang sebangun dengan disirami pakai air. Dalam hal ini, air dan batu merupakan alat untuk melempari dan menyirami. Sekali lagi batu dan air itu sebagai alat.


Nah sekarang kita kembali pada pokok persoalan. Andai analogi penjelasan tentang kalimat pasif itu dikembalikan pada kasus ‘dibohongi pakai surat Almaidah 51’, maka itu esensinya tak beda dengan kalimat: dibohongih surah Al Maidah 51 sehingga jelas sekali pemasalahan dan kesimpulannya. Bila penjelasan ini tak bisa diterima oleh sebagian pihak, maka mari kita telaah menggunakan cara lain lagi.

Sebagian umat Islam paham isi surah Al Maidah ayat 51 (ayat dan surat dalam kitab suci Alquran). Nyaris semua umat Islam percaya kebenaran isi ayat tersebut, walau penafsirannya bisa sedikit lain. Saat pernyataan itu muncul, Ahok tidak dalam keadaan maupun kapasitas untuk berdiskusi tentang tafsir Al Maidah 51. Demikian pula atas isi semua ayat dalam Alquran, pasti umat Islam mempercayai kebenarannya. Sama seperti pemeluk agama lain meyakini kebenaran kitab sucinya.

Dengan uraian seperti itu, maka isi dan makna Al Maidah 51 itu tentu diyakini kebenarannya oleh semua umat Islam. Rasanya hampir tak ada umat Islam yang beranggapan, bahwa isi surat tersebut berupa kebohongan. Keyakinan yang dimiliki umat Islam atas ayat tersebut belum tentu dipercaya juga oleh penganut agama lain. Lantaran itu, potensi ketidakpercayaan (menilai hal itu sebagai kebohongan) sangat mungkin ada di benak pemeluk agama lain.

Kalau bukan Al Maidah 51 yang dianggap sebuah kebohongan, lantas apa? Dalam untaian kalimat Ahok itu --saya ulangi lagi agar kian jelas-- isinya seperti ini: bapak-ibu enggak bisa pilih saya karena dibohongi pakai surat Al Maidah 51 macem-macem gitu lho.

Apakah ulama/dai menyampaikan kalam Illahi itu dianggap sebagai suatu kebohongan? Bila ulama atau ahli agama yang menyampaikan isi kitab suci kepada umat dan pemeluknya dianggap melakukan kebohongan, maka seluruh ulama --apa pun agamanya--  di muka bumi ini juga melakukan hal yang serupa dan sudah semestinya semua layak masuk penjara.

Penggalan kalimat: dibohongi pakai surah Al Maidah 51, selain berarti dibohongi surah Al Maidah 51, juga bermakna bahwa surah Al Maidah 51 menjadi alat untuk melakukan kebohongan pada masyarakat. Apakah arti kedua ini tidak masuk kategori penistaan kitab suci (Alquran)?  Saya yakin semua khalayak bisa menjawab sendiri pertanyaan ini, apalagi kalau dikaitkan dengan lima poin untuk menganalisis ada-tidaknya penistaan Alquran di atas.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :