Berita Terupdate dan Terpercaya Yang Disajikan Dengan Lebih Menarik

Polisi yang Jadi Pemulung Ini 'Ajari' DPR Arti Kejujuran

beritaviral.org - Sehari-hari, pria 58 tahun ini berdinas di Satuan Lalulintas Polresta Malang. Ia bertugas menguji para pencari Surat Izin Mengemudi (SIM), dan juga mengatur lalu lintas di jalanan Kota Apel. Ia adalah Bripka Seladi, seorang polisi dengan tubuh yang kurus dengan logat jawa yang sangat kental.

Seladi saat ini menjadi sorotan publik atas aksinya yang di luar kebiasaan polisi pada umumnya. Ia memilih menjadi pemulung untuk menambah penghasilan demi anak dan istrinya.  ''Awal mulanya saya mulung tahun 2004. Waktu itu saya terjepit masalah biaya untuk anak saya yang masih SD. Karena ada kebutuhan lain saya memulung,'' ucap Seladi, di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (23/5).

Padahal, dengan posisinya yang mengurusi administrasi SIM, bukan hal yang sulit untuk mendapatkan pemasukan tambahan. Namun, dia tidak ingin menjual keyakinan dan harga dirinya hanya demi secuil uang. ''Jangan sampai mencederai polisi, SIM itu mudah dapat duit. Tapi saya 15 tahun tidak pernah menerima suap baik uang maupun makan,'' ucapnya.


Tidak seperti oknum polisi yang kerap kali memberikan jalan pintas untuk mendapatkan SIM, Seladi memilih untuk benar-benar memberikan contoh dan menguji bagaimana cara mengemudi yang benar.

Kalau tidak berhasil pada percobaan pertama, maka Seladi tidak segan-segan untuk menyuruh mereka yang gagal ujian untuk balik lagi. Bahkan, Seladi menuturkan, meski sudah diberikan SIM dengan proses yang benar, tidak jarang ada warga yang memberikan salam tempel. '

Kerap kali, ada orang-orang yang mencoba menyuapkan dengan datang ke rumahnya langsung. ''Tapi saya tolak. Lebih nikmat memulung daripada cari sampingan dari cara lainnya, mudah sekali,'' kisahnya.

Seladi bercerita, ide awal ia memilih memulung adalah ketika dirinya sedang piket malam. Saat itu ada sampah yang menumpuk di Polresta Malang, yang membuatnya melirik dan tertatik untuk membawa sampah tersebut ke rumah.
''Setelah saya bawa pulang istri saya bilang dan marah-marah, enggak boleh dibawa pulang sampahnya,'' katanya sambil bercanda.

Maklum, penolakan istri Seladi itu karena memang dirinya tinggal di rumah orang tua mereka, dan bukan rumah sendiri. Sehingga, istrinya takut sampah yang dibawa pulang tersebut mengotori rumah yang mereka tinggali.

Namun, hal itu tidak menyurutkan semangat Seladi untuk mencari tambahan rezeki demi keluarganya. Ia tetap mengumpulkan sampah sedikit demi sedikit. 

Setelah satu bulan lebih Seladi mengumpulkan sampah, akhirnya untuk pertama kalinya ia menjual sampah yang susah payah dikumpulkannya itu. Hasilnya lumayan, Seladi mendapatkan Rp 400 ribu atas penjualan sampah perdananya. "Setelah itu anak istri saya kumpulkan dan dikasih hasilnya. Semuanya dari hati dan mulut harus sama, jangan sampai membohongi diri sendiri,'' katanya.

Selama 12 tahun memulung, Seladi menjalankan aktivitasnya dengan menyesuaikan jadwal piket. Jika piket pagi maka memulung sore harinya. Begitupun sebaliknya, jika dirinya piket malam, maka ia memulung pagi hari. 

Ia memilah sampah mulai dari kresek, plastik, hingga botol aqua. Ada cerita menarik dari Seladi, saat memulung, orang-orang tidak kenal bahwa dirinya adalah seorang polisi.

Bahkan, Seladi pernah diusir oleh pemulung lain karena dianggap masuk ke wilayah kekuasaan orang. ''Masyarakat tidak tahu kalau saya polisi. Bahkan ada temen yang karena kasihan, meminta saya menempati rumahnya yang kosong. Itu pun masih ada yang iri, gak tau padahal saya polisi,'' ungkapnya.

Seladi mengatakan, mencari rezeki itu mudah, hanya banyak masyarakat yang tidak tahu. Tinggal memilih mau melalui jalan yang baik atau jalan pintas.

Menyaksikan kisah Seladi, Ketua DPR Ade Komarudin menyatakan, di tengah-tengah dalam berita yang kurang baik, ia menemukan seseorang yang memberikan nilai yang inspiratif. Ia bersyukur masih ada seorang petugas negara yang mengutamakan kejujuran dalam bekerja dibanding pilihan yang tidak dikehendaki.

''Bripka Seladi merupakan petugas administrasi, tidak sungkan menjadi pemulung untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Mengutamakan kepada kita nilai-nilai kejujuran, terutama kerja keras sebagai seorang polisi,'' ujarnya.

Ia menilai, sebenarnya Seladi punya pilihan mendapatkan dana tambahan sebagai petugas yang mengurusi SIM. Kisah Seladi, menurut dia, mengajarkan semua pihak, termasuk anggota DPR maupun pegawai negeri, yang mengutamakan kejujuran. ''Dengan seperti ini revolusi mental dipastikan berhasil. Tidak mudah, gampang mengucapkan tapi sulit menjalankan,'' ucap dia.

Karena tersanjung dengan jalan hidup Seladi, Ketua Komisi III DPR RI Bambang Soesatyo bahkan mengapresiasi dengan memberikan gajinya kepada Seladi. ''Kami komisi III ditengah isu perpanjangan Kapolri, berita mengejutkan datang dari Seladi. Makanya saya kasih gaji saya sampai Desember,'' terang dia.

REPUBLIKA.CO.ID

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Polisi yang Jadi Pemulung Ini 'Ajari' DPR Arti Kejujuran