Berita Terupdate dan Terpercaya Yang Disajikan Dengan Lebih Menarik

Kenapa Satpol PP sering lebih galak dari TNI dan polisi?

beritaviral.org - Aksi satuan polisi pamong praja (Satpol PP) Kota Serang saat merazia rumah makan milik Jusriani (50) di Pasar Induk Rau Kota Serang menuai kecaman netizen lantaran dianggap kurang manusiawi. Tindakan Satpol PP itu pun menuai reaksi dari Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo dan Gubernur Banten, Rano Karno. 

Keduanya meminta pemerintah kabupaten atau kota di Banten, melakukan langkah persuasif dan humanis dalam menegakkan aturan. Sementara itu, Wali Kota Serang, Tubagus Haerul Jaman mengakui ada kesalahan prosedur dilakukan anggota satuan polisi pamong praja (Satpol PP) Kota Serang saat merazia rumah makan milik Ibu Eni.


"Menurut kami ketika Satpol PP sendiri menutup warung itu sudah betul. Tapi ada salah prosedur yaitu ketika ada pengangkutan barang dagangan. Seharusnya tidak begitu," kata Tubagus Haerul Jaman ditemui di Masjid Agung At-Tsauroh, Kota Serang, Minggu (12/6).

Jaman menyayangkan terjadi pengangkutan dagangan tersebut. Karena kewenangan Satpol PP hanya sebatas menutup rumah makan yang buka pada siang hari saat Ramadan. Meski begitu, Jaman mengatakan, tidak akan ada rencana pencabutan Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2010 terkait Penyakit Masyarakat yang di dalamnya mengatur jam buka rumah makan saat bulan puasa. 

"Kalau Perda itu kan aspirasi masyarakat dan tokoh serta alim ulama. Perda tidak akan dicabut. Satpol PP sudah melaksanakan Perda tersebut, hanya kesalahan prosedur," kata Jaman.

Tindakan anggota Satpol PP kerap menuai kecaman dari masyarakat lantaran terkadang dianggap lebih galak dari TNI dan polisi. Namun, Pengamat Kebijakan Publik Universitas Indonesia (UI), Riant Nugroho menilai, dalam kasus tersebut bukan sepenuhnya murni kesalahan anggota Satpol PP Serang. 

Sebab menurut Riant, anggota Satpol PP itu hanyalah eksekutor atau menjalankan perintah atasannya yakni seperti misal perintah Bupati atau wali kotanya. "Tak boleh dipeta-petakan seperti itu, mereka (Satpol PP) ini kan hanya menjalankan tugas. Kalau mau protes, ke yang nyuruhnya langsung, misal Bupati atau wali kota atau gubernur setempat," kata Riant.

Menurut dia, seharusnya wali kota mendidik anak buahnya dengan cara-cara yang humanis bila melakukan razia terhadap para pedagang. "Yang salah bukan Satpol PP nya, tapi wali kotanya. Mengapa Wali Kota Serang tidak mendidik anak buahnya dengan baik? Kok dia bisa enggak mikir akhirnya kaya gitu. Karena Satpol PP pada dasarnya enggak akan bekerja tanpa perintah atasannya. Birokrasi bersifat hirarki," ujar dia.

Menurut Riant, Satpol PP yang merampas barang Ibu Justriani itu seharusnya ada aturan hukum menertibkan. Dia mengatakan, Satpol PP memang punya hak untuk menertibkan, namun penertiban tak ada gunanya jika dia melakukan eksekusi melanggar kemanusiaan. 

"Kebijakan publik dibangun bukan untuk menghukum masyarakat, tapi melindungi dan menertibkan masyarakat. Menertibkan itu sendiri bukan dalam arti mengusir tanpa kemanusiaan. Kita ini hidup di era kemanusiaan. Karena kalau di dalam kita pemikiran kekuasaan bukan kemanusiaan, maka tak beda dengan penjajahan, yakni melaksanakan kekuasaan atas nama hukum. Hukum dilaksanakan di atas kemanusiaan, kemanusiaan direndahkan oleh hukum," kata Riant.

Merdeka.com

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Kenapa Satpol PP sering lebih galak dari TNI dan polisi?