Berita Terupdate dan Terpercaya Yang Disajikan Dengan Lebih Menarik

Kasihan... Anak-anak Nagan Raya Ini Meraung-raung Melihat Ayahnya Digiring

ACEH BARAT - Puluhan anak-anak dan balita, warga Desa Cot Rambong dan Cot Mee, Kabupaten Nagan Raya menangis maraung-raung saat melihat empat terdawa kasus pembakaran dan pengrusakan barak perkebunan sawit digiring ke ruang sidang di Pengadilan Negeri (PN) Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat, Rabu Lalu.

Jeritan tangis anak-anak yang ikut dalam barisan aksi saat mengawal proses persidangan terhadap empat 'pejuang' agraria itu membuat sebagian peserta aksi lainnya ikut menangis.

“Bebaskan ayah saya, karena ayah saya tidak bersalah, Allahu Akbar, teriak Rifki (10), saat berorasi singkat sambil menangis,” di pintu gerbang kantor PN Meulaboh.


Rifki (10) merupakan salah satu anak dari Musilan, terdakwa kasus pembakaran dan pengrusakan barak perusahaan perkebunan sawit milik PT Fajar Baizuri di Nagan Raya. Selama ayahnya ditahan belakangan Rifki sering tidak sekolah dan mengaji karena selalu teringat nasib ayahnya yang sudah sebulah lebih terkurung di jeruji besi sebagai tahanan pengadilan.

Seperti hari ini ia lebih memilih untuk ikut ibunya melakukan demonstrasi di PN Meulaboh mengawal sidang keempat dengan agenda putusan sela terhadap ayahnya dan tiga terdakwa lain dalam kasus yang sama.

“Sebenarnya kami sudah melarang anak-anak untuk tidak ikut demo karena tidak boleh, kami tau itu, tapi anak-anak terdakwa tidak mau sekolah. Jadi, dari pada tinggal di kampung tidak ada orang biarlah mereka ikut,” kata Samsuwir, salah satu orator warga Desa Cot Mee, kepada wartawan usai aksi.

Menurut Samsuwir, ratusan warga Desa Cot Rambong dan Cot Mee, akan terus melakukan aksi untuk mengawal proses persidangan terhadap empat 'pejuang' agraria, yang dinilai dituduh tanpa bukti tersebut. Kali ini warga melakukan aksi dengan berorasi dan mengusung replika kerenda manyat, patung dan mengurung empat pemuda dengan tangan terikat rantai sebagai bentuk sindiran diskriminasi terhadap masyarakat dianggap tidak bersalah.

“Kami meminta agar majelis hakim mengabulkan untukmenjatuhkan putusan bebas terhadap empat warga kami yang ditangkapp tanpa alat bukti. Kami melihat penangkapan ini penuh dengan rekayasa, karena saat terbakar barak itu mereka sedang berada di rumah masing-masing, kebetulan waktu itu bertepatan dengan malam lebaran idul fitri,” katanya.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Kasihan... Anak-anak Nagan Raya Ini Meraung-raung Melihat Ayahnya Digiring