Berita Terupdate dan Terpercaya Yang Disajikan Dengan Lebih Menarik

Ternyata Ini Penyebab Anak Buah Santoso Tidak Lagi Merasa Sejalan Dengan Santoso.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Tito Karnavian mengatakan kekuatan kelompok Santoso semakin melemah. Dari jumlah 41 anggota teroris Mujahiddin Indonesia Timur (MIT), sekarang tinggal 27 yang masih tetap angkat senjata.

Tito menjelaskan, perpecahan tersebut karena anggota merasa tidak sejalan dengan ajaran Santoso, yakni setiap ditanya mengenai ayat yang diyakini mereka tak dapat penjelasan detailnya. Selain itu anggota juga tak setuju dengan Santoso yang mengikutsertakan istrinya dalam jaringan tersebut. 

"Selain itu mereka juga mengalami kelaparan, jalur logistik mereka jadi berkurang, hilang, kelaparan jadinya mereka. Kemudian jalur informasi mereka jadi berkurang, mereka buta informasi di luar," ungkapnya. 
Dari yang hidup ini, lanjut Tito, pihaknya pun mendapat keterangan bahwa kelompok Santoso sudah sangat lemah, kekurangan logistik, moril mereka sudah jatuh sehingga terpecah dengan sendirinya.

"Santoso sendiri saat ini cuma 7 orang anggotanya dan dua di antaranya wanita. Kalau TNI-Polri mempertahankan posisi ini dan lebih menggiatkan operasi masuk ke hutan-hutan, saya yakin mereka cepat tertangkap," tegasnya.

Belum lama ini dua orang anggota kelompok sipil bersenjata pimpinan Santoso, Ibad dan Faqih tertangkap pada Jumat (15/4). Ada tiga alasan yang mendasari kelompok Santoso kabur dari hutan. Pertama adalah perjuangan kelompok ini sudah tidak sesuai lagi dengan syar'i (ajaran Islam). Kedua, mereka dikucilkan oleh anggota kelompok lainnya.

Yang terakhir mereka diperlakukan berbeda dengan kelompok lainnya dalam hal pembagian makanan, pekerjaan dan perlakuan. Demikian informasi dari seorang sumber di Polda Sulawesi Tengah, seperti dilansir dari kepada Antara.

Kapolda Sulteng Brigjen Pol Rudy Sufahriadi mengaku belum bisa mengorek keterangan lebih banyak dari kedua terduga teroris anggota Mujahdin Indonesia Timur (MIT) itu karena kondisi mereka sangat lemah dan badan kekurusan akibat kuran makan.

"Mereka masih dalam proses pemulihan fisik dulu baru pemeriksaan dilanjutkan," terang Rudy.

Kabid Humas Polda Sulteng AKBP Hari Suprapto menjelaskan bahwa pada saat itu, kedua orang tidak dikenal (OTK) itu berjalan di jalan desa Padang Lembara. Keduanya kemudian bertanya kepada seorang personel operasi Tinombala yang menyamar sebagai warga biasa, tentang alamat rumah pak Badri asal Medan.

Personel operasi itu kemudian menyakan identitas mereka namun mereka tidak menjawab sehingga petugas menaruh curiga dan meminta mereka menunjukkan KTP.

Akan tapi kedua orang itu langsung mencabut golok, dan terjadilah perkelahian fisik di antara mereka. Petugas bersangkutan dengan dibantu dua rekannya yang juga berpakaian sipil segera dapat melumpuhkan keduanya dengan tangan kosong tanpa melepaskan tembakan.

Keduanya kemudian digiring ke Mapolres Poso untuk menjalani pemeriksaan. Dari dalam tas milik Ibad, petugas menemukan 32 jenis barang seperti satu buah bom rakitan pipa paralon, senter, charger telepon seluler, lem besi merk dextone, obat ampicilin dan paracetamol, korek api gas, pisau dan parang, peralatan mandi dan makan.

Sedang di tas Faqih ditemukan 16 jenis benda antara lain baterai, korek api gas, paku, tali nilon, rompi tempat magazin dan topi rimba hitam.

sumber: merdeka.com

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Ternyata Ini Penyebab Anak Buah Santoso Tidak Lagi Merasa Sejalan Dengan Santoso.