Berita Terupdate dan Terpercaya Yang Disajikan Dengan Lebih Menarik

Terima Kasih Kuucapkan, Untukmu yang Selalu Setia Berada di Sisiku

Untuk waktu yang tidak sebentar, kita belajar saling mengenal. Aku menghafalkan senyummu yang selalu terulas dengan ringan, langkah kakimu yang khas dan tenang, hangat jarimu saat kita saling bergandengan tangan. Kebiasaan-kebiasaan kecilmu mulai aku adopsi. Tanpa sadar, kebiasaan-kebiasaanku juga menjadi bagian dari dirimu.

Kita telah terbiasa bersama, menghadapi waktu berdua. Mungkin kau akan tersenyum geli jika mendengarku mengakui: kadang aku bertanya-tanya kenapa kau masih (mau) ada di sini. Apa yang aku miliki sampai kau rela bertahan hingga sekarang? Karena sungguh, kadang aku masih merasa belum punya apa-apa. Kehadiranmulah yang menggenapiku, melengkapiku hingga aku menjadi sesuatu yang baru.

Terima kasih, karena kau telah mau bersanding dengan gadis sebiasa-biasa aku sampai saat ini.

Kita memang tak selalu sejalan. Ada saja saat di mana kita ingin saling mengalahkan.

foto: via google
Tak bisa dipungkiri, perjalanan kita lamanya memang tak lepas dari silang pikir dan kata. Jalanan yang kita lalui memang tak semulus jalan tol, kita banyak menemukan kerikil tajam serta jalanan berliku. Namun toh semuanya sanggup kita hadapi bersama, meski kadang tertatih dan dengan satu-dua napas kelelahan.

Aku masih ingat kala kita memang sedang tidak bisa berpikir jernih dan membuat suasana mengeruh. Ketika setiap tarikan nafasmu dan nafasku seperti lubang hidung naga yang siap menyemburkan nafas apinya kapan saja. Ketika aku dan kamu memang sedang tidak bisa berkompromi dan bekerja sama.

Bahkan, kita pernah juga terbelit tali cemburu yang membuat kita buta sementara. Membuat kita sejenak lupa bahwa ada cinta yang dalam di sana. Yang ada hanyalah kebencian dan api amarah yang siap melumat habis kita berdua.

Aku membentak, kau meradang. Aku menangis, kau terdiam. Saking kerasnya kepala, kita pernah memutuskan untuk sejenak tak saling berjumpa. Demi meredam kata-kata beraroma kebencian yang akan terlontarkan. Demi menjaga supaya hati masing-masing tetap utuh bentuknya.

Konyolnya, setiap selesai pertengkaran, kita sadar bahwa kita sebenarnya saling menggenapkan

foto: via google
Kita selalu menunggu hingga semuanya tenang, hingga pundi-pundi rindu kian menumpuk dan makin menggelembung jumlahnya. Mendinginkan dua kepala demi kebaikan berdua. Saat itulah kita baru akan kembali bersua. Menyusun kembali jalinan yang sempat koyak bentuknya.

Tiap kali pertikaian kita usai, kau dan aku akan saling menyadari bahwa kita sebenarnya saling mengisi. Bagaimana bisa aku lama-lama tak memandang parasmu atau tak mendengar derai tawamu? Hati ini selalu gusar luar biasa. Ya, hatiku memang tak lagi milikku sepenuhnya. Ada namamu juga tertera di sana. Wajar jika kemudian dia akan meraung tanda protes, meminta kehadiranmu secepatnya.

Ah, konyol memang. Mengingat lagi bagaimana ketika kemarin kita saling membentak dan bersumpah serapah. Kemudian esok hari memutuskan tak sudi untuk saling menatap muka. Namun, di hari lusa kita sudah saling berbagi dekap karena tak betah lama-lama saling menyimpan marah.

Kupikir hatimu pun demikian, tidak tahan ingin bersua dengan pemilik yang satunya: aku.

Di saat-saat yang paling sulit pun kau tetap setia di sana, tak pernah sejengkalpun mundur atau mencari tambatan lainnya

foto: via google
Memang di balik pertengkaran yang terjadi, aku selalu memendam kagum padamu, pada kita. Memori lama kembali berjejalan menunggu untuk kembali dicerna kepalaku. Bagaimana selama ini kita bisa saling menggenapkan. Saat aku berada di titik terendah, kaulah yang ada di sana siap menjadi pelontarku ke angkasa. Kau pula yang bertahan, sedia berdiri di garda terdepan.

BACA JUGA:


Kau tak pernah mundur ketika aku dan segala tingkah ajaibku menuntut pengertian dengan kadar yang lebih dari biasanya. Kau tak mencoba mencari gadis yang lebih sempurna yang tentu saja ada banyak jumlahnya di luaran sana. Kau memilihku, memilih merenda hubungan dengan gadis yang sangat biasa. Gadis yang berdiri di depan kaca hanya untuk sekedar merapikan rambutnya, bukan untuk memoleskan gincu atau maskara.

Ah, aku memang benar-benar mengagumimu yang memiliki rasa setia yang tak ada habisnya. Setia membimbingku hingga sekarang aku menjadi makin mendewasa. Setia memahamiku dengan segala tingkah polahku. Terimakasih kau selalu ada selama hampir separuh dasawarsa ini. Terimakasih sudah mempercayakan hatimu kepadaku.

Tentu kita tak boleh jemawa dan berhenti berusaha. Namun, apa salahnya untuk yakin bahwa ada tempat yang disiapkan masa depan bagi kita?

foto: via google
Tak pernah terlintas di kepalaku bahwa kita bisa bertahan hingga sekian lama. Masih tak percaya ketika perahu yang kita dayung ternyata bisa berlayar sejauh ini. Walaupun sesekali terhantam badai, kita toh masih utuh dengan layar yang menjulang. Siap menantang badai yang kapan saja akan kembali datang.

Melalui hubungan kita, aku mendewasa, aku kian tegar. Aku menemukan rumahku pulang. Walaupun tentu umur pacaran yang lama tidak boleh membuat kita jumawa. Kita harus kerap mengucap doa, semoga kita memang ditakdirkan bersama.

Sekali lagi kuucapkan padamu:

Terima kasih telah setia sekian lamanya. Semoga masa depan menyediakan untuk kita satu tempat bersama.

(Hipwee)

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Terima Kasih Kuucapkan, Untukmu yang Selalu Setia Berada di Sisiku