Berita Terupdate dan Terpercaya Yang Disajikan Dengan Lebih Menarik

Sepenggal Kisah Tentangku yang Tak Cantik

"Berpenampilan Menarik”, dua kata yang mengusik benak saya belakangan ini, terlebih setelah menamatkan pendidikan di perguruan tinggi dan sedang dalam status sebagai job seeker. Mendapatkan pekerjaan yang layak dan sesuai dengan passion tentu menjadi ekspektasi setiap orang. Namun realitasnya the real jungle tidak seindah yang dibayangkan. Tak jarang harapan-harapan yang telah dirajut harus berujung dengan kekecewaan, gagal mendapatkan pekerjaan impian karena tidak memenuhi salah satu atau beberapa kualifikasi yang diminta oleh perusahaan atau lembaga yang membutuhkan tenaga kerja.

Syarat berpenampilan menarik seakan menjadi momok tersendiri bagi saya. Meskipun istilah good looking masih abu-abu untuk diterjemahkan, namun sebagai orang yang tahu diri saya sudah mengerti apa yang dimaksud perusahaan. Karena tidak etis jika kemudian perusahaan menuliskan "cantik atau tampan” kedalam kriteria perekrutan tenaga kerja. Beberapa kali saya melayangkan surat lamaran pekerjaan dan hasilnya mengecewakan. Saya menyadari kalau saya adalah wanita yang biasa-biasa saja, tak berparas elok layaknya kebanyakan wanita lain.

Tak hanya dalam urusan karier, dalam kehidupan sehari-hari saya juga sering merasa di diskriminasi karena keadaan saya yang tidak seperti wanita kebanyakan. Inilah sepenggal kisah hidup saya, sebagai wanita dengan penampilan tak menarik. Sekilas membaca judul ini mungkin akan banyak yang akan mencerca saya sebagai orang yang suka mengeluh, tidak bersyukur, atau terlalu perasa. Tak masalah bagi saya, karena saya sudah terbiasa dengan perlakuan yang tidak menyenangkan. Saya hanya ingin di dengar dengan baik, layaknya wanita lain.

1. Wanita adalah perhiasan dunia, tak ada satu wanitapun yang meminta untuk terlahir jelek


" Wih..cantik sekali hari ini”
" Ya iyalah, semua wanita kan cantik, kalau ganteng itu laki-laki”

Wanita identik dengan keindahan. Sejak kecil anak perempuan sudah dibiasakan untuk menjadi sosok feminim. Tidak hanya pembiasaan tentang bagaimana cara berjalan atau cara duduk yang benar, mereka juga dikenalkan dengan berbagai atribut wanita seperti bando, boneka, atau rok motif bunga-bunga. Semua dilakukan untuk membentuk karakter wanita yang cantik, lembut, dan anggun.

Di dalam kehidupan di masyarakat semua wanita di genaralisasikan sebagai makhluk Tuhan berparas cantik dan berpenampilan menarik, namun kenyataannya tidaklah demikian. Diantara banyak wanita yang merasa beruntung memiliki kelebihan dari sisi fisik, ada saja wanita yang merasa tidak percaya pada dirinya sendiri dan merasa cemas jika tidak bisa diterima dengan baik oleh lingkungan karena memiliki wajah yang pas-pasan dan tubuh tidak ideal. Bukan berarti mereka tidak bersyukur atas nikmat lain yang diberikan Tuhan. Ingin terlihat cantik dan menarik menjadi salah satu dari fitrah wanita. Perkembangan jaman yang selalu menawarkan fashion up to date juga menjadi faktor yang mendorong kaum hawa untuk memiliki nilai estetika yang tinggi.

Semua wanita ingin tampil cantik. Tak ada satu remaja perempuan pun yang ingin memiliki jerawat di wajah, tak wanita yang ingin memiliki tubuh gendut atau berpostur tubuh bantat. Namun ketika tak memiliki paras cantik bukan berarti ia akan kehilangan kodratnya sebagai wanita. Selama  seorang wanita masih memiliki kelembutan hati maka dia tetaplah mutiara yang indah.

2. Saya sadar kalau tidak cantik, tapi saya masih punya pikiran dan perasaan


Sejak masih usia belia saya sadar bahwa akan ada perlakuan berbeda terhadap orang-orang yang tidak cantik dalam beberapa hal. Saya Pernah tereliminasi bahkan sebelum sempat ikut seleksi lomba menari, mungkin di lihat sekilas saja wajah saya sudah membuat mata pedih apa lagi jika tetap dipaksakan untuk menari di depan umum bisa-bisa penonton akan lari terbirit-birit. Namun saya beryukur karena saya masih diperhitungkan untuk mengikuti lomba cerdas cermat antar sekolah, walau tidak mendapat juara tapi saya merasa lebih berharga. Saya juga sadar walau saya jelek tapi saya masih dalam kategori orang yang baik, setidaknya saya bukan wanita jahat yang pernah sengaja berniat untuk menyakiti orang lain.

Setiap orang diciptakan dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Ketika tidak merasa seberuntung dengan nasib orang lain, maka bukan berarti Tuhan tidak adil. Saya tak pernah menyesali kenapa saya tidak terlahir sebagai wanita yang cantik yang bisa dengan mudah mendapat pujian dan perhatian dari banyak orang. Saya hanya tak habis pikir jika ada orang yang ketika merasa sudah tidak tertarik dengan tampilan fisik orang lain, maka dia juga akan menghiraukan terhadap pikiran dan perasaan mereka. Begitu mudahnya melontarkan kata-kata yang menyayat hati, walau kadang hanya berniat bercanda tapi terdengar keterlaluan.

3. Berdamai dengan keadaan adalah hal terwaras yang bisa saya lakukan


Sekali dua kali diabaikan dan ditertawakan, tidak menjadi masalah bagi saya. Tapi jika selalu mendapat ejekan dan perlakuan diskriminatif lama-lama menjenuhkan. Saya hanyalah manusia biasa yang bisa sewaktu-waktu meletupkan kemarahan. Ketika Tuhan saja bisa memperlakukan hambanya dengan Adil mengapa kita tak berusaha untuk berbuat adil juga kepada orang lain. Satu lagi yang perlu diketahui bahwa kejelekan itu tidak menular, jadi tidak perlu berlebihan dalam menyikapi orang yang tidak menarik. Jangan datang kepada kami hanya karena butuh, kemudian menghilang ketika gantian dibutuhkan.

"Bagaimana rasanya jadi wanita yang tak cantik?”
"Saya jelek dan saya bangga”

Sering mendapat perlakuan tidak adil justru membuat saya termotivasi untuk belajar menghargai orang lain. Dari pada membiarkan diri berlama-lama terpuruk memikirkan omongan negatif orang lain, lebih baik memanfaatkan waktu untuk membuktikan bahwa kita bisa diandalkan lewat ide-ide dan dan hasil pekerjaan yang berkualitas. Berdamai dengan keadaan dan menemukan pelarian terbaik, kini menjadi pilihan hidup saya. Tak perlu merasa pesimis dengan penampilan fisik kita, justru kita harus bangga atas segala kelebihan dan kekurangan. Kekurangan bukan untuk dirutuki, namun untuk dijadikan pacuan untuk lebih giat lagi mengeksplore potensi yang ada dalam diri. Jangan pernah menganggap remeh diri sendiri, karena setiap orang memiliki kemungkinan yang tak terhingga.

4. Friendzone, mungkin adalah tingkatan cinta tertinggi yang sejauh ini pernah saya alami


Satu lagi hal menyebalkan bagi saya adalah sering di bully jika sudah menyangkut perkara cinta. Serasa serba salah. Mengaku jomblo di judge sebagai wanita pemilih, mengaku punya kekasih hati kenyataannya tidak ada. Saya bukan tipe orang yang introvert, saya punya cukup banyak teman sehingga jarang merasa kesepian. Terkadang ada beberapa orang yang tertarik kepada saya, mungkin saja mereka tertarik pada ide-ide, kepribadian, atau kelebihan saya di bidang lain. Namun saya sering merasa sulit menemukan kecocokan dengan mereka, oleh karena itu tidak jarang saya di labeli sebagai wanita pemilih atau terlalu asyik dengan kesendirian. Saya pikir tidak ada yang salah dalam hal ini, karena dalamnya hati siapa yang tahu, orang lain hanya bisa menerka-nerka isi hati saya dari permukaannya saja.

Sehebat apapun talenta saya di bidang lain sepertinya ketika sudah di depan seorang pria saya menjadi kehilangan kemampuan untuk memulai sebuah percakapan. Biasanya saya hanya dianggap sebagai teman, tak lebih. Mereka bisa menikmati suasana ketika ngobrol bersama saya, bisa tertawa lepas ketika mendengarkan cerita-cerita dan banyolan yang saya buat. Tapi ketika memutuskan untuk melihat wajah saya? Hahaha ‘no way..!”. Tidak masalah bagi saya, toh bertemu dengan orang spesial tak serta merta membuat saya tiba-tiba ingin punya komitmen. Saya percaya masih ada orang baik yang bisa melihat sisi lain dari diri saya. Cukup bagi saya untuk memasrahkan urusan hati kepada Dia yang maha membolak-balikan hati. Jodoh tidak harus datang tepat waktu tapi pasti datang tepat pada waktunya.

5. Kecantikan universal disebut dengan inner beauty


Mawar tak akan pernah menjadi melati, pun melati juga tak akan pernah menjadi mawar. Karena setiap bunga memiliki keindahannya masing-masing, begitu juga dengan wanita. Setiap wanita berharap memiliki paras yang menawan, tidak jarang beberapa dari mereka mengeluarkan modal yang cukup besar hanya untuk memoles tampilan fisiknya. Namun kecantikan fisik adalah sebuah relativitas, setiap orang punya cara pandang sendiri untuk memaknainya. Ada yang bilang wanita chubby itu lucu, ada yang bilang wanita berponi imut, ada lagi yang mengatakan wanita berlesung pipi itu menggemaskan. Tidak ada ukuran trandar yang bisa dijadikan patokan. Sementara kecantikan sejati adalah kecantikan yang berasal dari dalam diri wanita itu sendiri, kecantikan yang bersumber dari hati. Walau tidak semua wanita memiliki kecantikan fisik namun Tuhan telah membekali setiap wanita sebuah hati yang cantik. Setiap wanita berhak menjadi cantik, karena ingin tampil cantik adalah fitrah setiap wanita. Cantik yang dimulai dari hati akan memancarkan keindahan yang tidak akan pernah luntur.

(hipwee)

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Sepenggal Kisah Tentangku yang Tak Cantik