Berita Terupdate dan Terpercaya Yang Disajikan Dengan Lebih Menarik

Kamu yang Kelak Mendampingiku, Maukah Berjuang Bersama Demi Kebutuhan Keluarga Kita Nantinya?

Hubungan yang kita jalin tak lagi bisa dibilang seumur jagung. Ia juga telah naik kasta: bukan lagi cerita asmara anak ingusan yang baru mengenal kata cinta dan bertukar cokelat serta boneka. Kita mulai menunjukkan taji pada dunia bahwa kita merupakan satu jiwa.

Aku dan kamu sudah saling menyelami dan memahami isi kepala satu sama lainnya. Aku mengadopsi kebiasaan remehmu, kamu pun tak biasa tanpa kehadiranku. Kita makin erat menjalinkan tangan dan beriringan menatap masa depan, berdua. Ya, aku dan kamu sudah sepakat untuk menjalin cerita dengan takaran yang lebih serius dan porsi yang lebih dalam.

Kita punya masa lalu yang menyenangkan. Masa sekarang pun kita hadapi dengan dewasa dan tenang. Lantas, maukah kamu berjuang bersamaku agar masa depan kita nyaman dan membahagiakan?

Kau orang pertama yang mengajakku memikirkan masa depan bersama. Terima kasih karena sudah percaya.

via google
Kau melontarkan keinginanmu sore itu. Sebuah impian sederhana tertutur cepat dari bibirmu. Tanpa tedeng aling-aling, tanpa rencana, kau menginginkan kita menghabiskan sisa hidup bersama, berdua. Aku tercenung karena tak pernah ada orang lain yang sebelumnya mengajakku melakukan hal serupa.

Aku mengiyakan ajakanmu dengan terbata, karena diburu dengan napasku yang tiba-tiba menjadi tak berirama. Ah, kata-katamu berhasil membuatku kepayahan. Sungguh, aku pun tak dapat menolaknya karena memang inilah yang aku mau sedari awal perjumpaan. Masa depan kita berdua terproyeksikan dengan jelas di lingkar kepalaku. Aku akan menjadi ibu yang akan membesarkan buah kasih kita dengan kehangatan. Dan kamu adalah sosok ayah yang menjadi panutan serta penuh kebijaksanaan.

Sayang, maukah kita bahu membahu bekerja lebih giat demi menyusun pondasi bagi masa depan?

Kita bermimpi mengikat janji suci tanpa banyak membebani orangtua. Harus ada yang kita punya; agar tak sepenuhnya membebani dua keluarga besar kita nantinya

via google
Kita memang telah memutuskan untuk menjalin cerita bersama. Tentu tanggung jawab yang akan kita pikul menjadi milik berdua sepenuhnya. Tak ada nama orangtua yang akan kita bawa serta untuk membiayai gedung pernikahan hingga dana pesta yang pasti membengkak anggarannya. Ya, pilihan yang kita ambil adalah tanggung jawab bersama.

Mulai dari konsep mentah hingga hari eksekusi merupakan perpaduan dari keinginanmu dan impianku. Berikut dengan rincian dana yang akan membuntutinya. Kita haruslah memiliki modal sendiri untuk hari bahagia sehingga kita bisa menikmati pesta dengan muka-muka yang memang kita akrabi. Tak ada lagi jabat tangan dari tamu undangan yang merupakan kawan dari orangtua yang tak kita kenali. Ya sayang, kita harus memiliki timbunan pundi rupiah sendiri sebelum memutuskan mengucap janji suci dan menjadi raja dan ratu sehari. Bersediakah kau dan aku sama-sama meliatkan otot lengan di dunia pekerjaan demi tabungan pernikahan?

Cicilan rumah memang tak ringan, namun kita bisa berbagi beban demi impian memiliki tempat yang nyaman. Bukan hanya untuk kita, namun juga buah hati kita nantinya.

via google
Di masa depan, kita harus memiliki tempat nyaman untuk tinggal. Rumah sepetak yang tak terlalu luas tentu cukup untuk tempat berteduh bagi keluarga kecil kita. Aku, kamu, serta dua anak yang akan memenuhi keriuhan ruang keluarga. Ditambah lagi halaman belakang yang tentu akan sempurna sebagai tempat piknik keluarga sekaligus melonggarkan kekencangan otot kepala.

Memang cicilan rumah akan semakin memberatkan di zaman di mana harga kebutuhan pokok saja sudah makin menggila. Namun hal itu tak perlu kau risaukan terlalu dalam. Aku bersedia berbagi beban. Tak hanya dirimu yang akan berpeluh demi mengumpulkan pundi rupiah. Aku juga akan turut membanting tulang agar tabungan kita bertambah jumlah. Supaya di masa depan kita memiliki tempat layak untuk berbagi kehangatan. Aku, kamu, dan buah hati kita di masa depan.

Biaya sekolah anak dan harga popok akan cukup memusingkan kepala. Berjanjilah kita akan merelakan kesenangan nonton bioskop demi mereka.

via google
Esok, kita tak hanya memikirkan kebutuhan dua kepala. Ada tanggung jawab anak-anak yang turut kita bawa serta. Kita harus mengempiskan biaya pengeluaran. Anggaran untuk makan di luar, nongkrong di cafe, dan nonton film di bioskop tentulah harus kita pangkas demi tercukupinya kebutuhan keluarga.

Ada tagihan bulanan hingga biaya pendidikan yang harus tercukupkan. Belum lagi dana untuk menambal keperluan rumah yang harus dikucurkan. Bahkan, ada popok hingga susu formula yang tak boleh terabaikan. Ya, saat kita mulai berkeluarga, kebutuhan bersamalah yang akan menduduki peringkat teratas di daftar prioritas. Kita harus pandai memutar otak supaya kebutuhan keluarga yang terlebih dahulu dicukupkan.

Anak-anak kita tidak bisa makan cinta, kita harus menyiapkan mental baja untuk menjadi tulang punggung keluarga.

via google
Sayang, sedari sekarang kita harus benar-benar bekerja keras. Membentuk diri untuk tak lagi terus menerus bersantai dan ongkang kaki. Ke depannya peran yang akan kita ambil cukup menguras tenaga. Aku dan kamu akan berdampingan menjadi orangtua bagi si buah hati. Tanggung jawab besar akan terpasak di bahu hingga hari tua.

Kita haruslah memiliki mental baja dari sekarang, jika di masa depan tak ingin mudah tumbang. Bekerja siang malam pun harus kita lakoni supaya kebutuhan perut dan rumah terpenuhkan. Pun meredam keinginan membeli ini itu dan pilih mengalokasikannya untuk menggembungkan simpanan. Bersediakah kau dan aku sama-sama berjuang untuk itu? Bersediakah kau dan aku bekerja keras untuk mewujudkan cita-cita kita bersama?

Sungguh, aku tak sabar menunggu saat dimana kau dan aku sama-sama kepayahan dan bertemu kembali setelah seharian kita berkutat dengan pekerjaan. Di sisa hari kita akan bertukar kata tentang kegiatan kita seharian. Saling memijat punggung dan bahu serta melempar beberapa kecupan. Sebagai bahan bakar sekaligus pemulihan sebelum akhirnya kita saling berpelukan di peraduan. Ah, masa depan begitu tergambar jelas di benakku sedari sekarang.

Bersediakah kamu bersama denganku menyingsingkan lengan dan berpeluh demi mewujudkan masa esok yang menjanjikan?

Sumber: hipwee

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Kamu yang Kelak Mendampingiku, Maukah Berjuang Bersama Demi Kebutuhan Keluarga Kita Nantinya?