Berita Terupdate dan Terpercaya Yang Disajikan Dengan Lebih Menarik

Hubungan Harus Dijalani Dengan Komitmen yang Tinggi, Bukan Sekadar Mengumbar Janji

Janji adalah sebuah ilusi yang mudah terucap, namun sulit terjaga. Di dalamnya mengandung keteguhan dan ketangguhan hati untuk menepati. Olehnya, kita diajak untuk belajar bagaimana menaati prinsip yang dibangun sendiri. Namun di lain sisi, janji adalah sebuah tanggung jawab yang mengandung banyak konsekuensi. Apalagi jika terlanjur kelebihan porsi.

Kita kerap mengumbar banyak janji saat sedang menjalani sebuah hubungan. Betul, bahwa itu bukti cinta. Di dalamnya terbersit pesan bahwa hal yang lebih baik pasti akan datang di masa depan. Padahal, bukankah tidak ada yang menjamin perkara masa depan?

Situasi bisa berubah kapan saja. Janjimu mungkin akan sulit terpenuhi karena beberapa hal berjalan tidak semestinya. Jika ternyata gagal, kamu pun akan dianggap ingkar.

Foto: via google
Satu hal yang paling pasti adalah perubahan. Kita semua boleh berharap bahwa segalanya akan baik-baik saja dan berjalan sesuai rencana. Namun, kita tak dapat mengontrol semesta hanya dengan ucapan semata. Apalagi dengan janji-janji manis yang tak butuh apapun untuk melakukannya.

Padahal kita belum tentu siap menghadapi kondisi yang berbeda. Kita tak lagi mengerti apakah kondisi ke depan dapat mendukung dirimu untuk menepati janji. Walaupun kamu sungguh-sungguh dalam mengusahakan, namun jika gagal kamu akan dianggap ingkar. Ukurlah diri sebelum berujar agar janji tak buang percuma.

Memang, janji terkadang dinilai sebagai bukti cinta. Padahal, yang senyata-nyatanya adalah ucapan bibir semata. Mudah terucap, tapi sulit terjaga.

Foto: via google
Sadarlah bahwa janji hanyalah sebentuk kalimat yang terucap saat ini, masa muda, di mana kemungkinan untuk berubah masih terbuka begitu lebar. Rencana bukanlah kemustahilan, namun janji tetaplah sebuah ikatan. Tak mudah untuk menjalani ikatan di masa muda yang penuh dengan kebebasan. Namun, bukan berarti kita semua bebas dari tanggungjawab.

Menjaga ritme dapat dilakukan dengan konsistensi tinggi tanpa sekalipun mengucap janji. Lebih melakukan dalam diam dan terus berusaha untuk melakukan yang terbaik; daripada sekadar berucap tanpa sikap. Sebab, seolah-olah, ketika sudah berucap, maka selesai satu tugas untuk mencintai dengan tulus. Padahal, itu hanyalah bayangan semu dan kerap mengecoh.

Janji yang bertubi-tubi hanya akan membuatmu menjalani cinta yang terbebani. Dirimu justru berusaha sibuk untuk menepati. Lupa untuk tulus mencintai.

Foto: via google
Selain mengecoh, terlalu banyak berjanji hanya akan mengubah haluan orientasi. Cobalah ingat kembali bagaimana cinta tumbuh saat masa awal pendekatan; saling penasaran satu sama lain. Semuanya memang terasa tidak natural, namun usaha dan perjuangan yang dilakukan selalu maksimal dan sungguh-sungguh.

Namun setelah menjalin, ada hal-hal yang sebenarnya tidak ingin diusahakan, namun diri tak ingin mengecewakan. Salah satu tameng untuk menutupinya adalah dengan membuat daftar barisan janji. Inilah yang menyebabkan luputnya pandangan pada visi utama : mencintai sepenuh hati. Dirimu sibuk memenuhi dan dirinya gusar menanti. Lalu di mana komunikasi yang biasa saja? Apa adanya? Tanpa beban, mencintai. Ya, menjalani begitu saja…

Ingat, janji adalah utang yang harus dilunasi. Jika kamu terlalu banyak mengumbar janji, bukankah kamu tidak sedang menjalani cinta yang sejati?

Foto: via google
Janji adalah hutang, dan hutang haruslah dibayar. Bukankah cinta tak pernah bicara soal transaksi semata? Jika sudah demikian, maka cintamu hanyalah tukar menukar. Terlebih jika dirimu hanya rajin mengumbar janji, dan selalu berdalih ketika ditagih untuk memenuhi. Betapa tidak menyenangkannya hubungan yang semacam itu? Seperti jual beli saja. Cobalah lihat secara menyeluruh bahwa dirimu memiliki kesempatan untuk menjalani cinta tanpa berusaha lari dari diri.

Janji yang berlebihan dan melampaui kemampuan diri adalah bentuk pelarian yang menyebabkan dirimu tercebur dalam cinta yang gelap mata. Jika sudah demikian, maka caramu memenuhi janji juga akan sangat berbahaya. Ya memang cinta butuh pengorbanan, namun kamu tak perlu menyebutnya sebagai pengorbanan jika kamu menjadi apa adanya tanpa mencari-cari dengan berlebihan, sebab yang demikian sudah sewajarnya dilakukan.

Oleh karena itu, prinsip yang matang tidak bisa dilihat dari janji semata. Manusia butuh gambaran visual. Dengan ini, kamu butuh sikap nyata untuk membuktikannya.

Foto: via google
Prinsip terlihat dari kata-kata dan sikap. Keduanya sama-sama memiliki kekuatan. Namun akan berbeda harganya jika kamu membuktikkan dengan sikap dalam diam, daripada terlalu banyak cakap tanpa sikap. Sebab, secara mendasar, manusia membutuhkan pengalaman dan gambaran visual. Kata-kata dapat menguap begitu saja, beda halnya dengan perhatian dan tindakan nyata yang akan tinggal selamanya entah di mata atau di pikiran, bahkan perasaan. Dan bukankah lebih romantis menjemputnya di tengah hujan deras daripada menjanjikan mobil mewah yang entah kapan harganya akan menjadi murah? Tunjukkanlah dengan sikap!

Sikap tersebut adalah komitmen dan konsistensi tinggi tanpa banyak berjanji. Cinta adalah kata kerja, bukan sekedar bualan bibir semata.

Foto: via google
Love is a verb, kalau kata John Mayer, komitmen dan konsistensi tak hanya dilihat dari janji. Inilah jebakan paling usah. Orang berpikir bahwa janji adalah bentuk komitmen untuk mencintai. Padahal yang namanya janji dapat diingkari kapanpun dan oleh siapapun. Lebih mengerikan lagi bahwa orang yang tidak ingin berjanji adalah pecundang yang cari aman, supaya tak berjuang lebih keras untuk memberikan yang terbaik.

Sadarlah saudaraku, perjuangan dan komitmen adalah soal menjalani ikhtiar dalam diri, bukan ucapan yang keluar sehari-hari. Kita semua tetap bisa berjuang dengan komitmen dan konsistensi tinggi tanpa menjanjikan sesuatu. Sikap ini akan menelurkan kisah yang menakjubkan, yang orang menyebutnya sebagai kejutan!

Kami tidak melarang untuk mengucap janji, hanya sedikit mengantisipasi tragedi kelebihan porsi. Di usia muda yang seperti ini, kita kerap luput untuk mengukur diri lalu menganggap semua hal dapat dilakoni. Itu semangat yang baik dan optimis, namun akan menjadi boomerang jika bersinggungan dengan urusan cinta. Salah-salah, kamu yang justru dianggap tak berkualitas. Untuk itu, bercerminlah sebelum mengucap janji, supaya tepat dan sesuai porsi. Berpikirlah luas tak berbatas dan bertindaklah dalam jangkauan kata pantas.

Hipwee.com

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Hubungan Harus Dijalani Dengan Komitmen yang Tinggi, Bukan Sekadar Mengumbar Janji