Berita Terupdate dan Terpercaya Yang Disajikan Dengan Lebih Menarik

Bukan Salahmu atau Salahku, Hanya Saja Kita Memang Tak Ditakdirkan untuk Bersatu

LIFESTYLE - Aku paham benar bahwa manusia yang sekarang sedang menapakkan kakinya di bumi, termasuk kita, diciptakan berpasangan. Aku, kamu, mereka, masing-masing memiliki teman menua bersama, tak hanya untuk memenuhi bumi demi meneruskan keturunan, namun juga sebagai kawan berbagi cerita dan jadi rekan untuk tumbuh dewasa.

Kini, memang aku dan kamu sedang berusaha menjalin kisah bersama. Namun, sepertinya cerita kita memang tidak dipertemukan untuk mengukir masa depan. Tidak ada yang salah di sini, hanya saja mungkin kita berdua memang tak tertakdirkan. Perjumpaan sejenak yang kita alami memang sudah digariskan.

Sesungguhnya terlampau banyak pertengkaran yang telah kita lewati. Kini kusadari kita hanya sedang berusaha saling menyakiti.

foto: via google
Tak bisa dipungkiri, pertengkaran merupakan salah satu senyawa dalam hubungan. Namun, di dalam hubungan kita, beda porsinya. Pertengkaran merupakan hidangan utama. Ia selalu tersedia untuk kita lahap dari pagi hingga senja. Membuat hubungan yang kita jalani tak ubahnya sebuah neraka. Kita bukan lagi kekasih yang saling mendampingi dan menopang, kita berubah menjadi lawan yang siap menerkam dan menjatuhkan.

Memang di setiap pertengkaran yang kita lakoni, selalu ada nilai yang bisa dipetik dan diresapi. Saling marah, melempar serapah, membentukku menjadi pribadi yang pantang menyerah, begitu pula kamu yang menjadi sosok yang lebih sabar. Aku tak gampang menyerah, berusaha sekuat daya supaya pendapatku bisa mendobrak paksa telingamu. Begitu pula kamu yang tetap bersabar dan bersikukuh mempertahankan pendapat sendiri. Tidakkah ini merupakan sebuah kompetisi? Iya, kompetisi untuk menghujam luka yang paling banyak jumlahnya.

Kusadari, ini bukan merupakan jenis pertengkaran yang menenangkan. Tak ada dekap dan kecup setelah perdebatan ini selesai. Masalah ada untuk dibiarkan terlantar, tanpa adanya penyelesaian. Aku dan kamu saling menyimpan marah, menimbunnya, dan membiarkannya menjadi peledak yang bisa meletus sewaktu-waktu. Ini bukan hubungan yang sehat, kurasa. Kita makin berjeda dan membeku. Karena begitu bernafsunya kita untuk saling mencabik dan menyakiti berkali-kali.

Semakin lama waktu berdua kita lewati, makin aku tak mengenali diri sendiri. Tidakkah perasaan asing macam ini juga kau hadapi?

foto: via google
Entah sudah berapa lama kita bertahan demi bersama. Aku dan kamu saling mengisi hari. Ah, tapi kurasa kita tak benar-benar saling mengisi. Kita hanya saling bersama karena takut ada rasa sepi yang menyelinap ketika sedang sendiri. Aku enggan makan sendirian dan memilih mengajakmu untuk menemani. Begitu pula kamu, yang mengajakku turut pergi karena enggan menjelajah kota seorang diri. Kita bersama hanya karena kebutuhan, bukan karena keinginan.

Kini, semakin kusadari, aku tak mengenali diriku lagi. Aku jauh berbeda dari sosokku yang terdahulu. Entah tenggelam kemana sosok periang dan terbuka yang dulu selalu melekatiku. Sekarang, aku lebih banyak diam dan menyimpan segalanya untuk diri, karena aku paham kamu bukanlah sosok yang bisa kuajak berbagi.

Aku pun tak lupa untuk selalu berhati-hati. Segala gerak-gerik kubatasi, cemas jika nantinya akan menyakiti atau justru membuat kita kembali bertengkar lagi. Tak hanya itu, aku juga diam-diam selalu meluangkan waktu untuk berburuk sangka akan dirimu. Cemburu berlebihan dan pikiran jelek sering datang sebelum sempat kularang. Perlahan aku berubah menjadi sosok yang kubenci. Gadis pemarah, pencemburu, dan terlalu menutup diri.

Aku mulai rindu untuk menjadi diriku sendiri. Tidakkah kamu juga begitu?

Kita sudah dewasa dan tentunya sudah saling tahu. Ini semua bukan perkara siapa yang salah, hanya saja kita memang sudah sama-sama lelah.

foto: via google
Tidak, aku tidak mengarahkan jari telunjukku demi mencari siapa yang salah atau demi mengubahmu menjadi si kambing hitam. Kita memang sudah tak sejalan. Begitu banyak hal yang membuat dunia kita sangat berbeda. Kita memiliki kepribadian dan minat yang sama menariknya. Hanya saja aku adalah si air, dan kamu adalah si api. Kita tak bisa bersama tanpa ada salah satu yang musnah atau tersakiti.

Dulu, kita memang pernah memutuskan untuk berhenti, namun selalu saja ada asa dan mimpi yang dijadikan pegangan. Berharap suatu saat ada yang bisa berubah demi keutuhan berdua. Namun, bukankah ini merupakan sikap yang sia-sia? Aku dan kamu dibekali dengan watak sendiri yang sama istimewanya. Tak seharusnya kita memangkas karakter diri hanya demi bisa bersama. Aku tak menyalahkanmu karena memiliki karakter, selera, minat, serta pandangan yang berbeda.

Sungguh, tak ada yang bersalah. Kita hanya benar-benar berbeda dan sudah saling lelah. Akuilah, hubungan kita memang sedang menunggu untuk disudahi.

Terimakasih kita sempat bersua dan merangkai cerita, darimu aku mendapat banyak pelajaran berharga.

foto: via google
Mari kita sama-sama mengurai ikatan yang selama ini ada. Tidak ada yang patut disesali. Lamanya hubungan bukanlah faktor utama untuk bertahan. Kita perlu menghirup udara banyak-banyak serta menelan kenyataan bahwa kita memang tak bisa melanjutkan hubungan. Terlalu berlimpahnya rasa sedih dan perih yang tercipta menuntut kita untuk mundur dan rehat sejenak dari dunia asmara. Namun tentu saja kamu merupakan sosok yang patut kuberi ucapan terimakasih. Lewat hubungan yang kita jalani berdua ini, aku belajar melepaskan dan melapangkan dada demi menerima kenyataan.

Terimakasih sudah pernah ada. Semoga kita sama-sama berbahagia dan mampu mengangkat muka untuk menantang masa depan.

sumber: hipwee

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Bukan Salahmu atau Salahku, Hanya Saja Kita Memang Tak Ditakdirkan untuk Bersatu