Berita Terupdate dan Terpercaya Yang Disajikan Dengan Lebih Menarik

Sengketa Wilayah Laut Indonesia Tiongkok Makin Panas

BERITAVIRAL.ORG - Ditangkapnya kapal laut Kway Fey di Natuna oleh kapal patroli Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengundang perhatian dunia internasional. Beberapa hari sebelum itu, KKP yang dipimpin oleh Menteri Susi Pudjiastuti baru saja meledakkan FV Viking yang jadi buruan Interpol, setelah dilakukannya penangkapan di pelabuhan Tanjung Berakit, Riau, pada tanggal 25 Februari 2016.

Tidak banyak yang senang dengan keberanian yang dilakukan oleh KKP di laut Natuna beberapa hari yang lalu saat ingin menangkap kapal Kway Fey.  Penangkapan kapal nelayan Kway Fey tersebut sempat diganggu kapal penjaga pantai Tiongkok yang memasuki Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia di Natuna untuk membawa kapal Kway Fey kembali ke daratan Tiongkok. tapi kapal patroli KKP berhasil menangkap delapan anak buah kapal (ABK).


Selama 66 tahun Indonesia dan Tiongkok menjalin hubungan, sudah beberapa kali sengketa  di wilayah laut di Indonesia terjadi. Beberapa diantaranya berlangsung menegangkan karena melibatkan kapal patroli Tiongkok yang bersenjata dan pemanggilan dubes Indonesia.

Pada Juni 2009, Indonesia menangkap 8 kapal dan 75 nelayan Tiongkok di 112 Km dari Pulau Sekatung, bagian dari kepulauan Natuna. Wilayah tersebut yang berdekatan dengan Spratly dianggap sebagai bagian dari Tiongkok. 

Tiongkok kemudian memanggil dubes Indonesia untuk Tiongkok, dan pada tanggal 10 Juli 2009,  59 dari 75 nelayan tersebut dibebaskan. Mereka bahkan disalami oleh pejabat Tiongkok setibanya di daratan Tiongkok. Mei 2010 dan Juni 2010, kapal TNI AL dua kali kalah persenjataan dengan kapal patroli Tiongkok yang membawa senjata berat, dan sama-sama berlangsung di Natuna. Pada tanggal 15 Mei 2010, kapal patrol Hiu 04 dan Hiu 10 menangkap 3 kapal nelayan Tiongkok. Namun, menurut salah satu kapten kapal patroli Hiu, kedatangan kapal patroli Tiongkok yang menodongkan senjata membuat mereka tidak bisa membawa kapal dan nelayan ilegal tersebut. Klaim Tiongkok atas Laut Cina Selatan, termasuk Natuna, dikeluhkan banyak pihak, karena banyak klaim tersebut yang tidak masuk akal.

"Soal dinamika Laut Cina Selatan. Cina klaim laut dari jalur pelayaran Cheng Hoo. Mengapa tidak sekalian diklaim saja laut Afrika dan Laut Jawa? Kan Cheng Ho juga pernah ke Semarang?" ujar Kepala Staf Komando Armada Indonesia Kawasan Barat (Koarmabar) Laksamana Pertama Amarulla Octavian pada sebuah diskusi di Jakarta, Kamis (28/5).

Namun, ketegasan Indonesia atas Tiongkok atas perahu Kway Fey patut diacungi jempol. Kementerian Luar Negeri sudah memanggil Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia melalui nota diplomatik. sebagai catatan, nota diplomatik cukup keras untuk menggambarkan satu negara terhadap negara lain.

“Dalam konteks diplomatik, apabila seorang dubes dipanggil dan diberikan nota protes, sudah cukup keras,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri, Arrmanatha Nasir pada Senin (21/3)

Di era pemerintahan Jokowi, walaupun penegakan regulasi di ZEE adalah tanggung jawab Badan Keamanan Laut dan KKP, namun TNI AL siap membantu upaya penegakan hukum di wilayah tersebut.

"Kami setuju untuk melepaskan fungsi penegakan hukum di laut. Kami bisa serahkan ke Bakamla, kalau sudah berfungsi sebagai coast guard. AL tak perlu menangkap dan menenggelamkan kapal kategori perikanan," tutup Oktavian.

 Sumber : jitunews 

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Sengketa Wilayah Laut Indonesia Tiongkok Makin Panas